FITRI DAN NEW NORMAL Oleh : TENDRI. S

0
59

Umat islam telah melewati training pengendalian hawa nafsu selama sebulan penuh di bulan Ramadan. Traning ini adalah treatment ibadah yang diperintahkan Allah untuk kepentingan manusia. Karena manusia dibekali hawa nafsu lahir ke dunia ini, maka hawa nafsu itu perlu diatur agar jangan melewati batas dan tak terkendali.

Didalam hawa nafsu ada; kasih sayang, cinta, ingin memimpin, ingin kaya, ingin cantik, ingin tampan, seks dan lain-lain. Kesemuanya ini positif jika diletakan pada proporsinya dan dibawah lingkup keteraturan.

Hawa nafsu itu perlu, karena dengan adanya hawa nafsu orang punya ambisi. Dorongan ambisi itulah yang membuat manusia ingin tetap hidup, berjuang untuk mewujudkan keinginannya. Tapi kesemuanya itu harus diatur, agar kita tidak sama dengan hewan.

Untuk keteraturan itulah Islam mengatur hawa nafsu dengan detail di dalam Al’quran.

Hawa nafsu sex diatur dengan perkawinan, sehingga manusia tidak semaunya melampiaskan hasrat sex nya.

Hawa nafsu makan dan minum diatur dalam makan dan minum yang halal. Diatur juga di dalam tata cara makan minum yang sehat, puasa dan zakat.

Hawa nafsu kekuasaan diatur dengan kepemimpinan atau khalifah.

Hawa nafsu berdagang dan bisnis diatur dalam jual beli, kejujuran, kepercayaan dan pelarangan riba.

Hawa nafsu berkompetisi, tidak boleh mengambil hak orang lain. Diatur dalam menghargai hak manusia, hak tetangga, larangan haram dan halal, zakat, sedekah, menyayangi sesama manusia dan menciptakan ukhuwah Islamiyyah.

Hawa nafsu merusak alam, dilarang dan diatur dalam tugas kekhalifahan. Manusia juga dituntut kewajiban mengatur dan menjaga kelestarian alam.

Hawa nafsu memakan dan membunuh hewan diatur dengan tata cara menyembelih agar halal dan perintah menyayangi hewan.Dan pengaturan hawa nafsu yang lainnya.

Hawa nafsu itu positif kalau dijalankan terkendali dalam koridor aturan agama. Umat islam seharusnya bisa mengaplikasikan pengendalian hawa nafsu kedalam kehidupan sehari-hari, karena sholat, puasa, zakat dan sedekah adalah pelatihan hawa nafsu.

Ke fitrian di bulan sawal ini, kesucian hati dan jasmani, yang kita peroleh dari puasa sebulan penuh di bulan Ramadan semoga akan terjaga terus selamanya. Kita jangan lagi menodai hati dan jasmani kita. Kalau kita lalai dan menganggap dosa-dosa kecil tidak apa-apa dan nanti bisa minta ampun, karena Allah maha pengampun. Maka noda kecil itu akan mengotori hati kita. Karena dianggap remeh besoknya bertambah lagi noda kecil itu. Dari hari ke hari bertambah akhirnya titik-titik noda kecil itu telah menumpuk dan menutupi kesucian hati kita.

Apalagi saat ini kita diharuskan menjalani kehidupan baru yang disebut “ new normal”. New normal adalah satu satunya pilihan, yang harus kita jalani. Tidak ada pilihan lain karena; vaksin covid 19 belum ditemukan, tidak disiplinnya masyarakat untuk diam di rumah karena tuntutan perut, keterbatasan kemampuan pemerintah dan pemerintah harus memutar kembali roda ekonomi bangsa.

Di kehidupan new normal ini kita harus memakai masker. Selain untuk menutupi mulut agar jangan tertular virus covid !9. Memakai masker ini mengandung makna agar kita lebih banyak tutup mulut, jangan menggunjingkan dan memfitnah orang.

Selalu cuci tangan setiap sesudah memegang sesuatu mengandung makna, agar tangan kita selalu bersih. Jangan mengambil hak orang lain, mengambil hak anak yatim, mengambil hak rakyat. Apalagi mengambil dana penanggulangan pandemi corona.

Menjalankan kehidupan new normal ini tidak terlalu berat, karena kita telah habit dengan kehidupan bersih selama dua bulan lebih. Kita sudah terbiasa belanja lewat on line, belajar lewat on line. Bahkan bekerja dan belanja lewat on line sudah lama kita kerjakan jauh sebelum corona datang.

Untuk pelaksanaan sholat di masjid dan beribadat agama lain tidak terlalu sulit untuk mengatur jaraknya. Apalagi soal kebersihan , Islam ada wudhu lima kali dalam sehari dan aturan istinjak. Begitu juga kebersihan di agama lain.

Penerapan yang agak sulit adalah menjaga jarak di kendaraan umum seperti ; bis kota, kereta dan kendaraan umum lainnya. Karena kita berlomba dengan waktu, sehingga membuat orang berebut untuk cepat menaiki kendaraan umum.

Banyak keuntungan yang didapat dari pandemi corona dan new normal yang akan kita jalankan. Kita akan berkurang nongkrong di Mall dan café. Ibu-ibu dan perempuan belia akan banyak di rumah sehingga menghemat uang berdandan dan fashion.

Akan banyak mengurangi pemborosan pemakaian bahan bakar kendaraan. Mengurangi kemacetan di kota-kota besar.

Perselingkuhan dan ketempat; pelacuran, panti pijat plus-plus dan diskotik akan berkurang karena orang lebih takut dengan virus covid !9 dibanding virus HIV.

Kebersihan di new normal ini, jangan hanya disikapi untuk virus covip 19 saja. Tapi kebersihan diri dari virus; korupsi, kerakusan, zalim, menindas dan merusak alam harus kita jaga dan kita kumandangkan.

Begitu juga dengan jaga jarak di new normal, kita pun harus menjaga jarak dengan orang-orang yang membawa virus-virus kotor tadi.

Perangkat demokrasi di Negara ini harus menjaga jarak seperti the founding father kita dulu. Legislatif, eksekutif. Yudikatif dan pers harus menjaga jarak dan saling kontrol.

Lembaga legislatif harus punya nyali dan independen mengawasi eksekutif, jangan hanya bisa menyanyikan koor setuju dan ketuk palu.

Lembaga yudikatif juga harus berani menegakan hukum yang bersih untuk kepentingan rakyatnya bukan untuk kepentingan penguasa apalagi untuk kepentingan pribadi para pekerja lembaga yudikatif.

Pers sebagai benteng keempat pilar demokrasi harus berani mengabarkan kemunafikan dan kebusukan, jangan bak pelacur tua yang menawar-nawarkan diri kepada penguasa.

Kalau ketiga lembaga ini punya harga diri, menjaga jarak dan bersih serta bisa mengendalikan hawa nafsu seperti saat berpuasa, maka lembaga eksekutif lebih berhati-hati dan selalu diingatkan untuk bekerja mensejahterakan rakyatnya.

Sehingga kongkalikong untuk mencari keuntungan pribadi dan menyengsarakan rakyat hilang dari bumi pertiwi ini.

Akhirnya rakyat berterima kasih dan hormat, karena rakyat merasa tidak salah pilih saat memilih pemimpinnya. Untuk menjalankan pelimpahan kekuasaan milik rakyat.

Tidak salah pilih Kalau legislatif nyaring suaranya untuk mengkritik eksekutif. Rakyat tidak menyesal menitipkan haknya kepada wakil yang dipilihnya.

Rakyat Pun hormat kepada lembaga yudikatif, lembaga yang mewakili Tuhan di dunia ini, karena sifat adil itu adalah milik Allah. Siapa yang bisa berlaku adil di dunia ini, maka dia mendekati salah satu sifat Allah.

Begitu juga dengan pers yang berani mengabarkan kemunafikan, kecurangan, manipulasi dan kebobrokan lainnya. Pers yang independen dan besar karena kekuatan menjual berita di medianya.

Tidaklah sulit kita menjalankan kehidupan new normal ini karena kebersihan, disiplin, menjauhi virus-virus yang kotor diajarkan di semua agama. Apalagi islam yang baru melewati masa training pengendalian hawa nafsu di bulan Ramadan.

Selamat menjalankan kehidupan new normal, semoga kita menjadi umat terpilih dan tangguh. Seperti umat nabi Nuh yang terpilih untuk menaiki kapal dan melanjutkan kehidupan di dunia yang semakin tua ini.

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here